Breaking News
Home / Bussines / Garuda Jaya, Rupiah Juara Asia! – CNBC Indonesia

Garuda Jaya, Rupiah Juara Asia! – CNBC Indonesia

Jakarta, CNBC Indonesia – Nilai tukar rupiah menguat tajam melawan dolar Amerika Serikat (AS) di awal perdagangan Kamis (24/3/2020). Tidak hanya menguat, Mata Uang Garuda juga menjadi juara Asia.

Pada pukul 09:03 WIB, US$ 1 setara dengan Rp 16.255, rupiah menguat 1,19% di pasar spot, melansir data Refinitiv. Penguatan tersebut sedikit terpangkas, di pembukaan perdagangan rupiah sudah menguat 1,52% di Rp 16.200/US$. 

Meski demikian, penguatan rupiah tersebut sudah cukup membawanya menjadi juara Asia pagi ini. Berikut pergerakan dolar AS melawan mata uang utama Asia hingga pukul 9:03 WIB: 



Rupiah sudah menunjukkan tanda-tanda bangkit sejak perdagangan Selasa, kala itu mampu menguat 0,6% dan menjadi mata uang dengan kinerja terbaik ketiga di Asia.

Setelah libur Hari Raya Nyepi kemarin, rupiah langsung menguat tajam di awal perdagangan hari ini. Sebabnya, sentimen pelaku pasar yang mulai membaik setelah pemerintah Amerika Serikat (AS) menggelontorkan stimulus jumbo.

Seperti diketahui sebelumnya, pada Selasa lalu Pemerintah dan Senat AS telah mencapai kata sepakat untuk mengucurkan stimulus senilai US$ 2 triliun, yang dikatakan terbesar sepanjang sejarah. Stimulus tersebut bahkan dua kali lipat lebih besar dari nilai perekonomian Indonesia.

Kesepakatan tersebut kini masih dalam tahap Rancangan Undang-Undang (RUU) dan harus di-voting di Kongres AS, sebelum ditandatangani Presiden AS, Donald Trump.


Dengan gelontoran stimulus tersebut, perekonomian Negeri Paman Sam diharapkan masih bisa berputar meski sedang mengalami pandemi virus corona (COVID-19), dan akan berakselerasi kencang begitu COVID-19 berhasil dihentikan.

Membaiknya sentimen pelaku pasar tercermin dari reli bursa global dalam dua hari beruntun. Indeks Dow Joens di bursa saham AS bahkan mencatat kenaikan 11% di hari Selasa, menjadi kenaikan harian terbesar dalam 87 tahun terakhir.

Ketika sentimen pelaku pasar membaik, maka aset-aset berimbal hasil tinggi kembali menjadi target investasi, rupiah pun mendapat rejeki. Pergerakan seperti ini sudah terjadi di awal tahun ini, ketika kesepakatan dagang AS-China membuat sentimen pelaku pasar membaik, outlook perekonomian tahun ini jadi lebih bagus dibandingkan tahun lalu, capital inflow mengalir deras ke RI dan rupiah menjadi mata yang terbaik di dunia setelah menguat lebih dari 2% di bulan Januari.

Selain itu, dolar AS juga sedang mengalami tekanan setelah bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed). mengumumkan stimulus moneter yang masif pada hari Senin waktu setempat.

The Fed mengumumkan akan melakukan program pembelian aset atau quantitative easing (QE) dengan nilai tak terbatas guna membantu perekonomian AS menghadapi tekanan dari pandemi virus corona (COVID-19). Aset yang akan dibeli seperti obligasi pemerintah, efek beragun aset perumahan (Residential Mortgage-Backed Security/RMBS), dan beberapa jenis efek lainnya.

The Fed mengatakan akan melakukan QE seberapapun yang dibutuhkan untuk mendukung kelancaran fungsi pasar serta transmisi kebijakan moneter yang efektif di segala kondisi finansial dan ekonomi.

“Tidak seperti pasca krisis finansial global (2008), saat itu nilai QE The Fed terbatas setiap bulannya, kali ini jumlahnya tak terbatas” kata Ray Attril, kepala strategi valas di National Australia Bank, sebagaimana dilansir CNBC International.

Jumlah yang tak terbatas tersebut artinya The Fed akan membeli berapapun aset yang diperlukan guna menyediakan likuiditas di pasar. Banjir likuiditas tersebut membuat dolar AS melemah, dan dengan sentimen pelaku pasar yang membaik, rupiah akhirnya perkasa kembali.

TIM RISET CNBC INDONESIA

(pap/pap)

Read More

About admin

Check Also

Asosiasi Leasing Setuju Relaksasi Cicilan Kredit Presiden Jokowi, Ini Syaratnya… – Bisnis.com

Asosiasi Leasing Setuju Relaksasi Cicilan Kredit Presiden Jokowi, Ini Syaratnya… – Bisnis.com

Bisnis.com, JAKARTA - Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI) resmi mengeluarkan kebijakan keringanan kredit bagi para nasabah, sebagai bentuk kepedulian atas penyebaran virus corona atau Covid-19 di Tanah Air.Ketua APPI Suwandi Wiratno menjelaskan penyebaran Covid-19 telah berdampak terhadap perekonomian nasional, yang juga dapat mempengaruhi kondisi keuangan pada nasabah perusahaan pembiayaan saat ini."Kami dari APPI bersama-sama dengan…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *